Telaga Ngebel, Secuil Cinta untuk Selamanya


Perjalanan kita dimulai darisini. Waktu itu awal karir ku bermula dari Ponorogo. Ku bilang karir karena itu memang awal ku memulai step lain setelah dua hari sebelumnya ku wisuda. Yaa kira-kira seperti itu. Sebenarnya aku lupa pastinya 😊

Perkenalan ku dan calon suami (dulu) berawal dari Ponorogo, kota kecil namun menyimpan berjuta kenangan. Yah, selang seminggu setelah “partner” ku memutuskan untuk meneruskan studinya datanglah seorang laki-laki besar, hitam, berkacamata. Oiya waktu itu aku inget sekali kalo dia make baju item, yaa deskripsikan sendiri maksud “hitam” itu apa. Hehee

Singkat cerita kita memutuskan untuk berlibur di hari Minggu, 18 Oktober 2015 ke Telaga Ngebel, yang waktu itu tujuan kita sih untuk mencari udara sejuk dan melarikan diri dari kota Ponorogo yang panasnya menyengat.

Yaa kira-kira seperti umumnya kegiatan yang dilakukan disana, foto-foto, pindah lokasi, foto-foto lagi. Hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore, dan apa yang terjadi selanjutnya? Pikir sendirilah, mengarang bebas itu mah judulnya.

Jadi ininya kita berdua jadian, di tempat itu, pukul lima, dan kita belom sholat ashar. Eemmhh..


Sesaat sebelum/setelah jadian, sok malu-malu

Lupakan soal itu, balik ke topik ya, ngomongin telaga ngebel aja. Dulu pertama aku tau telaga ngebel itu dari partnerku sebelumnya, seingetku tempatnya dingin, sejuk dan bikin menggigil. Namun pas saat itu datang, kok jadi biasa aja ya, gak dingin-dingin banget, cenderung ke panas.

Asal mula telaga ngebel menurut sejarah berasal dari kisah orang kaya, kikir nan sombong tidak mau membantu sesama, sehingga dia dan orang-orang yang memakan ular jadi-jadian itu dikutuk supaya tenggelam seluruhnya akibat dari air yang memancar dari lidi yang ditanam si ular. Itu sih dari cerita si google ya, dan itu juga baru saya tau barusan setelah saya browsing.

Kalau menurut pandangan ilmiah beda lagi, mungkin saja disekitar situ ada sumber air, oleh karenanya dibuat telaga untuk menampung air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, untuk air baku maupun sumber listrik, karena setau saya di dekat telaga ada PLTA nya juga. Yah itu menurut saya.

Oiya di Ngebel kalian bisa menikmati telaga dengan memutarinya menggunakan perahu sewa-an. Untuk perahu mesin muat sekitar 10 – 15 orang cukup bayar 5 atau 10 ribu, aku lupa, sekali putaran telaga. Untuk perahu boat 50 ribu kalau ngga salah, nanti disetirin sama penjaga nya dan bisa dapet seputaran telaga full.

Yaa begitulah kira-kira suasana di Telaga Ngebel

Kalo pas musim duren, banyak kali duren dijual di pinggir-pinggir telaga, harganya juga murah dan durennya lezatos. Kalo ngga enak bisa dikembalikan sampe nemu yang enak, kata penjualnya sih gitu. Asal dimakan disana aja, kalopun dibawa pulang rugi dijalannya, udah jauh, Cuma balikin doang lagi wkwk.

Disana kamu bisa sekedar memandangi keindahan telaga di pinggir-pinggir jalan sambil menikmati makanan kecil yang dibawa sebelumnya. Atau juga menikmati ikan bakar maupun goreng yang dijual di resto pinggir telaga. Suasana yang pas untuk beromantika, hehe.

Untuk kebersihan ya cukup bersih, cuman masih ada sampah di sana-sini tapi ga begitu merusak pemandangan. Ingat ya, bila ingin kenyamanan dalam hal apapun, termasuk nyaman memandang, jangan lupa buang sampah pada tempatnya ya..

Sekian.


Ponorogo, 18 Oktober 2015
Ditulis di
Bandung, 8 Februari 2018
- Penulisnya sudah jadi “Ny.” Fefen -





Komentar

Postingan Populer